CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

18 Januari 2013

Aku memang jatuh cinta, tapi itu dulu


Dering hape terus berbunyi tak henti-hentinya menimbulkan kebisingan yang teramat, biarkan saja toh tempat ini sepi hanya ada pepohonan, gedung yang tak mungkin bisa protes, dan aku sendiri.
Aku menatap nama yang tertera pada layar hapeku. Nama itu lagi. Aku hanya menatap datar pada layar, lalu aku menekan tombol reject. Belasan panggilan tak terjawab.
Aku terus melanjutkan lamunanku, aku nikmati angin yang berembus makin kencang dan dingin dan Lalu lalang orang yang ingin segera sampai di rumah sebelum matahari terbenam.

"Ternyata kau di sini, aku sudah lama mencarimu..". Aku sangat mengenali suara itu. Aku menoleh ke belakang. Di belakangku sudah ada senyuman dan tatapan mata yang hangat yang sangat kukenali.
Dia mendekat beberapa meter ke arahku. Aku terdiam, hanya menatapnya datar. Dia terus tersenyum dan dia memang selalu begitu.

"Kamu kemana saja?"
Aku diam beberapa detik. "Maaf.." ucapku. Tapi aku tak berani menatap ke arah matanya.
"Kenapa meminta maaf?"
"Iya.. Maaf.. Maaf saja" aku masih tidak berani menatap matanya.
Kudengar dia menghembuskan nafasnya.
"Aku tau, kamu sudah sampai di titik kejenuhan kan?"
Aku kaget. Kenapa dia bisa membaca pikiranku. Aku benci saat ada orang yang bisa membaca pikiranku.
"Tapi bukan kayak gini caranya.."
"Kayak gini gimana?" aku mulai bersuara, perlahan aku menatap matanya.
"Menjauh seperti ini.."
"Maafkan aku.."
"Sudah aku bilang tidak ada yang perlu dimaafkan"
"Iya aku tau aku salah..."
Kami terdiam.
"Coba deh kamu ingat, kita sudah melewati setengah tahap dari ini semua.. Apa kamu mau menyerah sampai sini saja?"
"......."
"kumohon..jawablah.." nada suaranya mendesak.
"Aku tidak tahu.."
"Apa susahnya memilih antara ya dan tidak?" suaranya mengecil. Dia mendekatkan dirinya padaku.
"Aku tak bisa memilih.."
"Waktu terus berjalan.. Kalau kamu terus-terusan begini, waktu akan habis.."
"Iya aku tau...aku sedang berusaha berpikir!"
Dia kaget mengetahui nada suaraku yang meninggi.
"Aku minta sama kamu,inget-inget lagi semuanya dari awal kita gimana, udah bisa ngelewatin semuanya bareng-bareng, momen-momen berharga kita, ingat bagaimana awalnya kamu bisa jatuh cinta sama aku, sama kita...."
Aku menatapnya, aku berusaha menahan air mataku.
Aku mulai mengingat detail-detail perjalanan ini, bagaimana aku memilihnya, bagaimana aku jatuh cinta, bagaimana aku bahagia,momen-momen berharga meski ada beberapa kesedihan.
Ya Tuhan apa aku harus melepas semua ini atau aku harus melanjutkannya? Tapi kalau setengah hati bagaimana?
"Apa mungkin kamu sudah jatuh cinta sama yang lain?"
Aku menggeleng.
"Kamu yang memilihku, aku yang pertama...apa kamu udah gak cinta sama aku?"
"Bukan seperti itu.."
"Lalu?"
"Aku memang jatuh cinta sama kamu,sama kita .. Tapi itu dulu... Saat ini aku kehilangan rasa itu...."
Dia menunjukkan ekspresi kaget.
"Maafkan aku..." ucapku, tak terasa air mataku menetes.
"Tapi alasannya apa? Apa karena setelah kita melewati setengah perjalanan, lalu kamu sudah lelah untuk melanjutkan setengahnya lagi?"
Air mataku malah makin menetes.
"Jangan menangis.....semuanya pasti ada penyelesaiannya. Aku tidak ingin kamu menyerah dan berhenti sampai di sini..."
"Aku akan membantumu jatuh cinta lagi pada semuanya, padaku dan pada kita..."lanjutnya.
Aku hanya terdiam dan membiarkan Dia menaruh kepalaku di pundaknya.

2 komentar:

Khoiru Nisa

Tenang saja kawan, Tuhan sudah punya rencana lain. Jodoh sudah ada di tangan Allah. Nikmati saja seperti hari biasa dan berkarirlah sebanyak-banyaknya untuk meraih mimpi, mimpi yang telah kau buat di pohon impian :D

putrimaesa

iya desay :) ini juga cuma fiksi kok hihi

Posting Komentar